Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Mohsen Araki, dalam acara nasional i‘tikaf tahun 1404 bertajuk “Keagungan Iman”, sekaligus peringatan Syahid Jenderal Haj Qasem Soleimani dan para syuhada perlawanan, yang digelar dengan kehadiran para mu‘takif di Masjid Imam Hasan Askari as di Qom, menyebut identitas sebagai faktor penentu kemuliaan atau kehinaan bangsa-bangsa. Ia menegaskan bahwa setiap masyarakat dikenali melalui identitasnya, dan identitas itulah faktor utama bagi kemerdekaan, kehormatan, atau keterpurukan suatu bangsa.
Anggota Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah ini menekankan bahwa “menjadi orang Iran” bukan sekadar identitas geografis, seraya menambahkan bahwa identitas Iran sepanjang sejarah dimaknai melalui ikatan yang mendalam dengan Imam Husain as, Amirul Mukminin Ali as, dan budaya Ahlulbait as; dan ikatan inilah yang membentuk indikator utamanya.
Anggota Dewan Pertimbangan Kepentingan Negara menegaskan bahwa perlawanan merupakan indikator terpenting dari identitas ini, seraya menjelaskan bahwa perlawanan dalam logika agama berarti berdiri teguh untuk menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan; tujuannya adalah menjaga agama Allah, meninggikan panji tauhid, dan mencegah dominasi kebatilan atas nasib manusia.
Dengan merujuk pada ajaran Al-Qur’an tentang barisan iman, ia mengatakan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan sebuah barisan yang bahkan luka dan penderitaan pun tidak melemahkannya, melainkan mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan keteguhan yang lebih besar.
Anggota Pimpinan Majelis Ahli Rahbar ini menambahkan bahwa musuh-musuh selalu berupaya mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk melemahkan poros perlawanan, namun pengalaman sejarah menunjukkan bahwa setiap kali tekanan, ancaman, dan konspirasi meningkat, poros perlawanan bukan mundur, melainkan tampil lebih kuat dengan bersandar kepada Allah.
Dengan menyinggung semangat keteguhan dalam sirah Amirul Mukminin as, Ayatullah Araki menyatakan bahwa bertahan hingga hembusan napas terakhir dan berdiri hingga orang terakhir merupakan ciri khas identitas Alawi, yang dalam sejarah Islam tampak jelas melalui teladan-teladan nyata seperti Hazrat Abul Fadhl al-Abbas as.
Ia melanjutkan bahwa semangat ini juga berlanjut di era kontemporer; ketika para komandan seperti Jenderal Soleimani gugur sebagai syahid, jalan perlawanan tidak berhenti, karena jalan ini adalah jalan sebuah bangsa dengan identitas yang jelas.
Anggota Himpunan Guru Hauzah Ilmiah Qom ini menekankan bahwa identitas Alawi tidak terbatas pada medan militer, melainkan hadir di semua bidang—dari ilmu pengetahuan dan kemajuan, hingga ekonomi, politik, dan pengelolaan sosial. Dengan merujuk pada pengalaman masa ketergantungan Iran, ia mengatakan bahwa setiap kali masyarakat menjauh dari identitas Alawi, negara terjerumus dalam kelemahan dan keterjajahan; sebaliknya, kembali kepada identitas ini telah mengubah Iran menjadi negara yang mandiri, tangguh, dan berpengaruh.
Ayatullah Araki menegaskan bahwa penjelasan dan peneguhan identitas Alawi bangsa Iran merupakan kebutuhan strategis, dan seluruh pemilik pena, lisan, dan media harus menjalankan tanggung jawab mereka dalam hal ini; sebab tanpa identitas ini, kohesi dan kekuatan nasional akan mengalami keretakan.
Dalam bagian lain ceramahnya, ia menyinggung kedudukan i‘tikaf sebagai kesempatan untuk kembali kepada identitas asli kewilayahan (wilayah) dan memperbarui ikatan dengan Imam. Ia mengatakan bahwa i‘tikaf adalah simbol identitas bangsa Iran. Jika identitas Alawi diambil dari bangsa ini, maka tidak akan tersisa sesuatu pun untuk berdiri menghadapi musuh. Kita beri‘tikaf di masjid-masjid agar di tempat yang pernah digunakan Imam Maksum as untuk salat, kita membersihkan diri dari noda kehidupan sehari-hari dan mendekat kepada imamah. Ibadah ilahi ini membantu kita mengilapkan identitas kewilayahan.
Ayatullah Araki menutup dengan doa agar bangsa Iran diteguhkan langkahnya di jalan wilayah, seraya menegaskan bahwa bangsa Iran adalah bangsa wilayah, dan musuh-musuh tidak akan pernah mampu merampas identitas autentik ini dari mereka.
Your Comment